Masa Pendidikan

nichiren2Nichiren dilahirkan di Kominato, sebuah desa nelayan di propinsi Awa (Chiba-ken), pada tanggal 16 Februari, 1222. Beliau diberi nama Zennichiro oleh orangtuaNya. Ayah dari Nichiren adalah salah seorang pegawai rendah dari penguasa daerah setempat dimana desa Kominato berada. Penguasa daerah ini adalah seorang wanita bangsawan, dengan siapa keluarga Nichiren mempunyai hubungan yang baik. Toki Tsunenobu (1216-1299), seorang samurai di propinsi Shimousa (Chiba-Ken) juga mempunyai hubungan dengan Keluarga Nichiren.

Di tahun 1233, wanita bangsawan tersebut mengirim Zennichimaro ke Kiyosumidera (Seichôji), sebuah kuil aliran Tendai, sebagai pelayan dari pendeta kepala Dôzen. Pada waktu itu kuil ini merupakan pusat pendidikan yg terbesar di daerah itu. Di tahun 1237 Zennichimaro naik tingkat menjadi pendeta Buddhis pemula dibawah Dôzen. Beliau diberi nama pendeta Buddhis, Renchô.

Renchô menyadari bahwa perpustakaan kuil itu terlalu kecil untuk memuaskan keinginan belajarNya. Di tahun 1241 beliau pergi ke kota Kamakura dan belajar di perpustakaan kuil Hachimangûji. Waktu itu kota Kamakura adalah pusat pemerintahan de facto Jepang, yang dikepalai oleh Hôjô Yasutoki, yang nama jabatannya adalah Shikken atau Wali. Tugas dari Shikken ini adalah untuk bekerja dibawah Shôgun Fujiwara-no-Yoritsune, yang waktu itu masih berumur sangat muda dan hanyalah penguasa boneka semata. Pemerintahan Kamakura pertama didirikan oleh Minamoto-no-Yoritomo di tahun 1192. Yoritomo adalah samurai pertaman yg menjadi Shôgun dalam sejarah Jepang. Dia sengaja mendirikan pemerintahan samurai (militer) diluar Kyoto, dimana Keluarga Kekaisaran dan bangsawan2 lainnya memonopoli pemerintahan Jepang selama 4 abad sebelumnya. Namun tanah2 yg ditempati oleh Keluarga Kekaisaran dan bangsawan2 lainnya, tanah kuil2 dan kuil masih dikuasai oleh Keluarga Kerajaan. Setelah Shôgun Minamoto yang terakhir, Sanetomo, terbunuh pada tahun 1219, Keluarga Kekaisaran mencoba untuk menggulingkan pemerintahan Kamakura yg dipimpin oleh Hôjô Yoshitoki, yang telah melayani Shôgun Sanetomo sebagai Wali. Walaupun dia mengalahkan pasukan kekaisaran pada tahun 1221, Hôjô Yoshitoki menyadari bahwa pasukan samurai pemerintahan Shogun yg dipimpinnya terlalu lemah untuk menguasai seluruh Jepang. Hôjô Yoshitoki menjadikan seorang anak keluarga bangsawan dari Kyoto sebagai Shôgun, dan memanipulasi kekuasaan dibawahnya sebagai Shikken (Wali).

Kuil Hachimangûji adalah nama Buddhis dari Kuil Shinto Hachimangû. Jaman itu, Hachimangû Kuil Shinto dihiasi seluruhnya dengan peralatan dan perabotan Buddhist. Kuil Hachimangûji mempunyai hubungan/afiliasi dengan Kuil Onjôji di propinsi Omi (Shiga-ken). Sebaliknya, Kuil Onjôji, juga berkiblat pada Kuil Enryakuji di Hieizan (Gunung Hiei) di propinsi yg sama, tapi Kuil Onjôji mendeklarasikan idependensi dari Enryakuji pada tahun 993, dan mengganti nama menjadi Kuil Pusat Tendai Shû Jimon Ha.

Di tahun 1241 Renchô pergi ke Kuil Enryakuji untuk melanjutkan pendidikannya. Kuil Enryakuji adalah kuil pusat sekte Tendai di Jepang. Sekte Tendai didirikan oleh Tendai Daishi (538-597) di China dan kemudian disebarkan di Jepang oleh Saichô (Dengyô Daishi, 767-822). Sekte ini juga dikenal sebagai Hokke Shû atau sekte Hokke (Saddharma Pundarika Sutra) karena Saddharma Pundarika Sutra adalah Sutra dasar dari sekte ini. Semenjak penyebaran Buddhisme, Saddharma Pundarika Sutra adalah salah satu Sutra paling popular di Jepang. Shôtoku Taishi (Pangeran Mahkota Shôtoku 574-622) telah menulis catatan komentar atas sutra ini. Kaisar Shômu (701-756) mendirikan kuil untuk Bhikku dan kuil untuk Bhikkuni disetiap propinsi, dan memerintahkan para Bhikku untuk mengucapkan Konkômyôkyô, dan para Bhikkuni diperintahkan untuk menyebutkan Hokekyô. Isi dari Konkômyôkyô sangatlah mirip dengan Hokekyô. Saddharma Pundarika Sutra adalah sutra yang paling sering dibaca dan dibabarkan dalam Masa Heian. Pembabaran mengenai delapan roll dari Saddharma Pundarika Sutra juga cukup sering dilaksanakan di Istana Kekaisaran. Apa yang secara popular disebut sbg shakyô atau penyalinan sutra hampir bisa diartikan sebagai penyalinan Saddharma Pundarika Sutra dan bukan sutra2 lainnya.

Namun, tidak lama setelah sepeninggalan Saichô, Sekte Tendai di Jepang mulai memperkenalkan unsur2 Buddhism lainnya. Ennin (Jikaku Daishi, 794-864) memperkenalkan Esoteric Buddhism dan Buddhism Tanah Suci dari China dan mendirikan Taimitsu atau Sekolah Tendai Esoteric dan Tendai Jôdo Kyô atau Sekolah Tendai Tanah Suci di Hieizan. Buddha Sâkyamuni di Saddharma Pundarika Sutra diidentifikasikan dengan Buddha Amitâbha, dan pembacaan Nembutsu juga didorong untuk dibacakan bersama Saddharma Pundarika Sutra.

Selain kecendrungan singkretisme dari Sekte Tendai ini, gunung suci Hieizan juga mengalami gejala sekularisme. Dari awal abad kesepuluh, pengorganisasian bhikku2 kedalam sebuah pasukan mulai dilakukan dengan tujuan untuk memerangi pasukan bhikku lainnya untuk tujuan2 politik. Peperangan antara pasukan bhikku semakin meningkat setelah Kuil Onjôji memisahkan diri dari Kuil Enryakuji. Di tahun 1081, pasukan bhikku dari Hieizan membakar Kuil Onjôji. Kuil ini sempat dibangun kembali namun pada tahun 1121 dibakar kembali oleh pasukan yang sama. Sebalik, Kuil Enryakuji juga dibakar oleh pasukan dari Kuil Onjôji pada tahun yg sama. Pada tahun2 1140, 1163 dan 1214 Kuil Onjôji kembali dibakar terus menerus. Semua pendiri banyak sekte2 baru di Masa Kamakura pernah belajar di Kuil Hieizan, tapi mereka meninggalkan kuil tsb setelah kecewa dengan situasi disana. Eisai pergi meninggalkan Hieizan di tahun 1160; Hônen di tahun 1175, Shinran di tahun 1201, dan Dôgen di tahun 1213.

Renchô tetap tinggal di Hieizan selama sebelas tahun hingga tahun 1253. Apa yg dia temukan disana yg menjadi penyesalannya yg paling dalam adalah penolakan Sekte Tanah Suci yg dipimpin oleh Hônen untuk mempercayai Saddharma Pundarika Sutra. Menurut mereka Saddharma Pundarika Sutra terlampau sulit untuk dipelajari bagi manusia di Masa Akhir Dharma; dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan mereka adalah dengan menyebutkan mantera Nembutsu. Renchô berkeinginan untuk menggantikan penyebutan Nembutsu dengan Daimoku untuk mengembalikan kejayaan dari Saddharma Pundarika Sutra dan Sâkyamuni Buddha.

Daimoku

Renchô pergi meninggalkan Gunung Hiei (Hieizan) diawal tahun 1252 dan kembali ke Kiyosumi-dera, ke kuil pertama beliau. Pada pagi hari tanggal 28 April beliau berdiri diatas bukit Senkôzan Hill yg terletak didalam tanah Kuil Kiyosumi-dera Temple, dan untuk pertama kalinya menyebutkan Daimoku dihadapan matahari yang sedang terbit. Disana dia memproklamasikan hati kepercayaannya yang baru, dan beliau kemudian merubah namanya menjadi Nichiren. Dalam ceramahnya yg pertama, yang disampaikan di kuil pada hari yg sama, Nichiren mengkritik praktek2 dari sekte Nembutsu. Gubernur Tôjô Kagenobu, salah satu pendukung kuat sekte Nembuts, berada diantara yg hadir dalam ceramah tsb dan menjadi marah ketika mendengar kritikan Nichiren atas sekte Nembutsu.

Nichiren kemudian pergi ke Kamakura dan tinggal di Matsubagayatsu, di distrik pusat kota tsb. Selama kepergiannya dari Kamakura untuk sebelas tahun telah terjadi tiga peristiwa penting di kota itu. Yang pertama, pembangunan patung Buddha Agung selesai pada tahun 1252. Ide untuk pembangunan patung Buddha Agung ini pertamakali mulai dicetuskan oleh Minamoto-no-Yoritomo, yang berniat untuk menghias ibukota Jepang yang baru dengan patung Buddha agung yg sama dengan yg dapat ditemukan di Nara, ibukota Jepang yg tertua. Dapat disebutkan disini bahwa patung Buddha Agung di Kamakura adalah patung Amitâbha Buddha sedangkan patung yg terdapat di Nara adalah patung Buddha Vairocana.

Peristiwa penting kedua adalah kunjungan dari bhikku Dôryû ke Kamakura di tahun 1246. Dôryû (Tao-lung, 1213-1278) adalah bhikku sekte Rinzai Zen, yang datang dari China bagian tengah. Pada waktu itu, China bagian utara dikuasai oleh kerajaan Monggol. Dan pemerintahan Dinasti Sung, yg pernah menguasai seluruh China dari ibukota Pien di China utara, terusir ke China bagian tengah pada tahun 1127. Dôryû disambut hangat oleh Hôjô Tokiyori. Pada tahun 1200 Eisai sudah mulai menyebarkan Sekte Zen Rinzai di Kamakura. Pada saat yg bersamaan, pemerintahan Kamakura mengalami kekosongan tampuk kepemimpinan, dan kekuasaan pemerintahan dikendalikan oleh Masako, janda dari Minamoto-no-Yoritomo. Dia membangun Kuil Jufukuji Temple untuk Eisai, tapi dia juga tidak menijinkan Eisai untuk menggunakan kuil tsb khusus untuk pembabaran ajaran Zen. Masako minta agar Eisai juga membabarkan ajaran2 sekte2 Tendai dan Shingon bersama dengan ajaran2 Zen. Kuil Jôrakuji, kuil Zen lainnya, yg dibangun oleh Gyôyû dibawah lindungan Shikken Hôjô Yasutoki pada tahun 1237, juga merupakan sebuah kuil dimana ajaran2 Zen, Tendai dan Shingon dipelajari.

Namun, praktek penggabungan ini terhenti sejak Kuil Kenchôji selesai dibangun untuk Darya di tahun 1253. Alasan yang paling mungkin untuk penghilangan ini adalah rasa hormat dari rakyat Jepang untuk bhikku-bhikku dari China. Ketika Dôryû datang ke Kamakura, Shikken Hôjô Tokiyori menawarkan Jôrakuji sebagai tempat tinggalnya untuk sementara, dan mulai membangun kuil baru untuk dia. Pembangunan kuil ini selesai di tahun 1253, dan kuil ini diberi nama Kenchôji, sama dengan nama tahun tsb.

Peristiwa penting ketiga adalah pendirian pemerintahan Kekaisaran Shogun yang telah lama diidamkan oleh pemerintah Kamukara dgn tujuan untuk menguasai Jepang secara lebih leluasa. Pada tanggal 19 Maret, 1252, Pangeran Munetaka, putra pertama Kaisar Gosaga, mulai menempati istana Omiya di Kamakura, dengan diiringi arak-arakan yg meriah.

Nichiren mendorong setiap orang yg ditemui untuk mulai menyebut Daimoku dan beliau juga terus mengkritik sekte Nembutsu, yang mana menyebabkan tekanan terhadap beliau. Namun, dalam perjalanan waktu, jumlah pengikut beliau semakin meningkat. Kebanyakan dari pengikut beliau adalah orang-orang kota. Para samurai yg juga jadi pengikut beliau bukanlah pegawai pemerintahan tingkat tinggi, tapi pejabat-pejabat lokal berbagai propinsi yg datang ke ibukota dalam rangka tugas.

Tidak lama setelah Nichiren datang ke Kamakura, seorang bhikku dari sekte Tendai datang berkunjung dan menjadi murid beliau. Namanya dari bhikku ini adalah Jôben, seorang teman kelas dari Nichiren di Hieizan. Nichiren menamakan dia Nisshô (1221-1323). berusia satu tahun lebih tua dari Nichiren. Dilahirkan dari keluarga samurai di propinsi Shimousa (Chiba-ken), sewaktu Nisshô berada di Hieizan dia diadopsi sebagai yûshi (putra angkat tanpa hak waris) oleh Konoye Kanetsune, kepala keluarga Konoye ketiga dari kalangan bangsawan Kyoto. Pada tahun 1254, Kichijômaro, keponakan dari Nisshô juga ikut menjadi murid dari Nichiren. Dia diberi nama Nichirô (1245-1320).

Risshô-Ankoku-Ron

Pada tahun 1257 kota Kamakura menderita serangan gempa bumi yang hebat. Pada tahun 1259 terjadi serangan wabah yg luas, dan disusul oleh bencana kelaparan. Nichiren menyatakan bahwa penyebab dari bencana-bencana ini adalah penolakan dari pemerintahan dan negara Jepang atas Saddharma Pundarika Sutra dan Buddha Sâkyamuni. Beliau menyatakan, bahwa apabila Saddharma Pundarika Sutra dan Buddha Sâkyamuni tidak diperlakukan secara layak, maka akan terjadi perang sipil dan penyerangan oleh negara asing. Ini mengingatkan kita pada Tyndale, yang tiga abad sesudah Nichiren juga mengeluarkan pernyataan bahwa Inggris akan dihancurkan oleh “perang, bencana kelaparan, dan wabah penyakit” kecuali kalau negara Inggris mempertahan Hukum Tuhan.

Nichiren memutuskan untuk menegur pemerintah melalui sebuah tulisan. Untuk mempersiapkan tulisan ini, beliau berkunjung ke perpustakaan Kuil Jissôji di Iwamoto di propinsi Suruga (Shizuoka-ken) pada tahun 1259. Kuil Jissôji adalah milik kuil Enryakuji di gunung Hieizan. Beliau tidak menggunakan perpustakaan Kuil Hachimangûji karena beliau tahu bahwa Ryûben, bhikku kepala kuil itu, adalah salah satu bhikku terkemuka dari sekteTendai Shû Jimon Ha.

Sewaktu beliau tinggal di Kuil Jissôji, seorang bhikku datang berkunjung dari kuil Tendai Shijûkuin yang letaknya berdekatan dengan Jissôji. Bhikku ini kemudian menjadi salah satu pengikut Nichiren dan diberi nama Nikkô (1246-1333). Nikkô dilahirkan dari keluarga samurai di propinsi Kai (Yamanashi-ken).

Nichiren kembali ke Kamakura dan mulai menulis Risshô-ankoku-ron sebagai teguran untuk pemerintah. Dalam persiapannya, beliau mengunjungi Daigaku Saburô (Hiki Yoshimoto, 1201-1286) untuk mendapatkan nasihat mengenai tata bahasa untuk tulisannya. Daigaku Saburô tinggal di Hikigayatsu. Walau merupakan anggota keluarga Hiki, dia tidak lagi menggunakan nama keluarganya karena kelurga Hiki secara resmi telah punah setelah Hiki Yoshikazu, kepala keluarga Hiki yg terakhir, terbunuh di tahun 1203. Saburô Yoshimoto adalah putra dari Yoshikazu. Saburô diserahkan ke Kuil Tôji di Kyoto setelah kematian ayahnya, dan menjadi ahli pidato gaya China dengan nama Daigaku Saburô. Dia mengawal bekas Kaisar Juntoku menjalani pembuangan di pulau Sado pada tahun 1221. Dia mempunyai seorang keponakan wanita bernama Yoshiko, yang menikah dengan Shôgun keempat Fujiwara-no-Yoritsune pada tahun 1230. Atas permintaan Shôgun ini, Yoshimoto kembali dari pulau Sado ke Kamakura, dan melayani pemerintahan sebagai pejabat sipil. Dia diberikan rumah lama dari keluarga Hiki di Hikigayatsu. Daigaku Saburô sangatlah terkesan oleh Risshô-ankoku-ron, dan tidak lama setelah itu dia menjadi salah satu pengikut dari Nichiren.

Satu hal lagi yg perlu disebutkan disini terjadi di Istana Kekaisaran pada tahun 1259. Bekas kaisar Gosaga mempunyai tiga putra. Putranya yg pertama, Munetaka, menjadi Shôgun di Kamakura. Putranya yg kedua menjadi kaisar Gofukakusa pada tahun 1246. Sebenarnya, bekas kaisar Gosaga lebih menyukai putranya yg ketiga dibanding dengan putranya yg kedua, dan menurunkan kaisar Gofukakusa dari tahta untuk menaikan putranya yg ketiga, yg di angkat menjadi Kaisar Kameyama pada tahun 1259. Inilah awal dari permasalahan suksesi,yang nantinya akan berakhir dengan pecahnya Perang Suksesi antara Dua Dinasti. Masalah ini juga sangat mempengaruhi organisasi-organisasi agama, dimana pertanyaan kolot, menimbulkan banyak perpecahan dan lahirnya sekte-sekte baru.

Nichiren mengirimkan Risshô-ankoku-ron kepada Hôjô Tokiyori melalui Yadoya Mitsunori, sekretaris dari Tokiyori, on July 16, 1260.

Walaupun Tokiyori pada waktu itu sebenarnya telah pensiun, namun dia tetap memegang kendali pemerintahan. Pada singkatnya, Nichiren menulis bahwa Jepang akan menderita perang sipil dan serangan negara asing kecuali apabila negara Jepang memuja Buddha Sâkyamuni Buddha dan mengucapkan Daimoku.

Penyiksaan dan Penganiayaan

Risshô-ankoku-ron menyebabkan dimulainya tekanan-tekanan dan penyiksaan-penyiksaan terhadapa Nichiren. Dalam Risshô-ankoku-ron Nichiren menyebutkan pengasingan ketiga kaisar di tahun 1221, dan mengkritik pemerintahan perwalian Hôjô atas hal ini. Penyebutan ini membuat Hôjô Shigetoki merasa terhina, satu2nya anggota pemerintahan yg bertanggung jawab atas pengasingan para kaisar tsb yg masih hidup. Pengangkatan seorang pangeran keluarga kekaisaran sbg Shôgun dirasakan sebagai upaya penghapusan kesalahan yg sudah cukup oleh Keluarga Hojo. Insiden tahun 1221 ini telah menjadi hal yg terlarang untuk dibicarakan dikalangan keluarga Hôjô. Shigetoki adalah ayah dari Shikken Hôjô Nagatoki, dan ayah dari istri Hôjô Tokiyori. Karena hubungan-hubungan kekeluargaan ini, pembakaran tempat pertapaan Nichiren di Matsubagayatsu pada malam hari tanggal 27 August 27 tahun itu dipercayai sebagai hasil perbuatan penjahat-penjahat yg telah disewa oleh Hôjô Shigetoki. Setelah kejadian ini Nichiren pergi menghindar ke tempat tinggal Toki Tsunenobu di Nakayama di propinsi Shimousa.

Tempat pertapaan Nichiren di Matsubagayatsu nantinya akan diperbaiki oleh para pengikutnya yg semakin bertambah banyak. Atas desakan Hôjô Shigetoki, pemerintah memutuskan untuk membuang Nichiren kedalam pengasingkan di Ito di propinsi Izu (Shizuoka-ken). Pada pagi hari tanggal 12 May, 1261, Nichiren ditangkap dan dikirim dari pantai Yuigahama Beach menuju Ito dengan kapal.

Nichiren ditahan di Ito kira-kira selama setahun setengah. Selama tinggal disana dia menghasilkan banyak tulisan, termasuk Kyôki-jikoku-shô, yg mana didalamnya beliau membabarkan Gokô atau Lima Jenis Pengajaran. Pada tanggal 22 Februari, 1263 beliau mendapat pengampunan dan beliau kembali ke Kamakura.

Selama Nichiren tinggal di Ito, telah berdiri Kuil Gikurakuji dari sekte Ritsu Shingon di Kamakura. Kuil ini pada awalnya dibangun di Fukasawa di Kamakura oleh seorang bhikku Nembutsu antara tahun 1257 dan tahun 1259. Sewaktu pertama kali didirikan kuil ini tidak berkiblat ke sekte manapun. Hôjô Shigetoki memindahkan kuil ini ke tempatnya yg sekarang, 2 kilometer ke arah barat dari Fukasawa atas nasihat Ryôkan, seorang bhikku dari sekte Ritsu Shingon. Shigetoki meninggal dikuil ini pada tanggal November 3, 1261. Setelah dia meninggal kuil ini berafiliasi dengan sekte Ritsu Shingo.

Eizon, bhikku kepala dari Kuil Saidaiji di Nara, dan pendiri sekte Ritsu Shingon, berkunjung ke Kamakura atas undangan dari Hôjo Tokiyori pada tanggal 27 Februari, 1262. Dia tinggal di Kamakura sampai tanggal 18 Juli tahun itu. Selama 5 bulan masa tinggal di Kamakura kurang lebih sepuluh ribu orang mendengarkan ajaran-ajaran Buddhis dari dia. Diantara para pengikutnya termasuk Shôgun, pangeran Munetaka, Tokiyori and anggota-anggota lain dari keluarga Hôjô, dan samurai-samurai dan orang-orang kota lainnya.

Setelah kembali ke Kamakura Nichiren mengunjungi Kominato, kota kelahiran beliau pada bulan Oktober 1264. Kudô Yoshitaka, penguasa daerah Amatsu, mengundang Nichiren untuk datang berkunjung kerumahnya pada tanggal 11 November. Ketika Nichiren dan pengikutnya sedang melewati hutan Komatsubara dalam perjalanan menuju Amatsu, mereka diserang secara mendadak oleh orang-orang bersenjata yang telah menunggu di dalam hutan. Orang-orang ini dipimpin oleh Tôjô Kagenobu, gubernur daerah Tôjô, yang telah membenci Nichiren semenjak dia mendengar ceramah pertama Nichiren di Kuil Kiyosumi-dera lebih dari sebelas tahun yang lalu. Kudô Yoshitaka, yang berpikir bahwa sesuatu pasti telah terjadi karena Nichiren belum juga tiba pada waktunya, datang ke tempat penyergapan tersebut dengan pengikut-pengikutnya. Pertempuran yg terjadi kemudian antara Kudô and Tôjô berakhir dengan meninggalnya Yoshitaka dan salah seorang murid Nichiren, Kyônimbô. Nichiren juga menderita sayatan pedang di kening beliau. Beberapa hari kemudian Tôjô Kagenobu juga meninggal setelah menderita penyakit demam.

Dari tahun 1264 sampai 1267 Nichiren mengadakan perjalanan ceramah melewati propinsi Awa, Kazusa dan Shimousa. Pada tahun 1265, seorang samurai di Mobara di propinsi Kazusa (Chiba-ken) menjadi salah seorang pengikut Nichiren. Samurai ini mempunyai seorang putra yang waktu itu sedang menjadi bhikku pemula di gunung Hieizan. Sang ayah memanggil putranya kembali dari Hieizan dan menjadikan dia salah satu dari murid Nichiren. Oleh Nichiren bhikku muda ini diberi nama Nikô (1253-1314).

Ada lagi seorang bhikku muda yg menjadi pengikut dekat Nichiren pada waktu ini. Dia adalah seorang anak mantu dari Toki Tsunenobu. Istri dari Toki Tsunenobu ini adalah bekas janda seorang samurai di Omosu, Kitayama, di propinsi Suruga. Setelah dia menikah dengan Toki Tsunenobu dia telah mempunyai dua orang putra dari suaminya yg pertama yg telah meninggal. Toki Tsunenobu mengadopsi keduanya sebagai putranya sendiri, dan pada tahun 1259 mengirim putra yg tertua ke Kuil Guhôji, kuil sekte Tendai yg dekat dengan rumahnya. Bhikku pemula ini akhirnya menjadi salah satu murid Nichiren dan diberi nama Nitchô (1252-1317).

Insiden di Tatsunokuchi

Nichiren kembali ke Kamakura pada awal tahun 1268. Pada tanggal 18 Januari tahun yg sama, seorang utusan kerajaan Korea datang di Dazaifu di Kyushu dengan membawa surat2 dari raja Korea dan Mongolia. Seluruh Jepang terkejut dengan ancaman penyerang Mongolia ini. Sebaliknya, para pengikut Nichiren justru bangga atas pandangan jauh guru mereka. Mereka yg mengucapkan Daimoku semakin hari dan dari tahun ke tahun semakin bertambah. Mereka mengkritik pemerintahan Jepang dan para penganut sekte Nembutsu dengan mengatakan bahwa mereka seharusnya menyebutkan Daimoku untuk menyelamatkan Jepang. Pemerintahan kemudian memutuskan untuk menekan penganut ajaran Nichiren untuk mengkontrol agama di Jepang.

Adalah suatu ketidak beruntungan yg sangat besar bagi penganut ajaran Nichiren atas terbunuhnya menteri peperangan Nagasaki Yoritsuna, yang sangat sombong dan kejam, pada tahun 1294 dalam usahanya yg gagal untuk mendudukkan putranya sebagai Wali pemerintahan Kamakura.

Sebelum mengisahkan penekanan yg terjadi pada sekte Nichiren, seorang murid Nichiren yg lain akan diperkenalkan disini. Pada tahun 1270 Nikkô datang dari propinsi Suruga ke Matsubagayatsu di Kamakura untuk menemui Nichiren, dia membawa seorang muridnya yg bernama Nichiji (1250-?). Nichiji dilahirkan dari keluarga samurai di Mimatsu di propinsi Suruga. Semenjak kecil Nichiji mulai belajar untuk menjadi seorang bhikku di Kuil Jissôji, dimana Nichiren pernah tinggal di tahun 1257. Pada tahun 1270 dia bertemu dengan Nikkô dan menjadi muridnya dan diberi nama Nichiji. Nantinya Nichiji akan menjadi murid dari Nichiren, dengan persetujuan dari Nikkô.

Pada tanggal 12 September, satu hari sebelum pemerintah Jepang mengeluarkan perintah untuk menurunkan pasukan pemerintah ke Kyushu untuk mempertahankan Jepang dari serangan Mongol, menteri peperangan Nagasaki Yoritsuna, yg mewakili pemerintahan, menangkap Nichiren dan menjatuhkan hukuman pengasingan atas beliau ke pulau Sado. Nichirô dan empat murid lainnya juga ditangkap dan ditahan dipenjara bawah tanah di lingkungan tempat tinggal Yadoya Mitsunori. Nagasaki Yoritsuna bermaksud untuk menghiraukan hukuman pengasingan dan menghukum mati Nichiren malam itu juga. Nichiren dibawa ke tempat penghukuman mati di Tatsunokuchi, namun pelaksanaan hukuman mati tersebut digagalkan dengan kedatangan seorang utusan dari Hôjô Tokimune, yg telah mengetahui rencana jahat tersebut.

Pembuangan ke Pulau Sado

Selanjutnya Nichiren dibawa ke tempat tinggal Homma Shigetsura di Echi di propinsi Sagami (Kanagawa-ken). Beliau meninggalkan Echi pada tanggal He 10 Oktober, dan ditahan disebuah gubuk bernama Sammaidô di Tsukahara di pulau Sado Island pada tanggal 1 November, 1271.

Nichiren menulis Kaimokushô di Tsukahara dibulan Pebruari tahun 1272, dan mengirimkannya ke Shijô Kingo, seorang pengikut setia beliau di Kamakura. Shijô Kingo adalah seorang bawahan dari Hôjô Mitsutoki, seroang anggota penting dari keluarga Hôjô. Hôjo Mitsutoki adalah seorang pengikut Ryokan, bhikku kepala Kuil Gokurakuji.

Nichiren dipindahkan ke tempat tinggal Kondô Kiyohisa di Ichinosawa di Sado Island pada tahun 1272. Disana beliau menulis Kanjin-honzon-shô, yg dikirim ke Toki Tsunenobu pada tanggal 26 April, 1273. Pada tanggal 8 Juli tahun yg sama, beliau menulis Mandala Agung untuk pertama kalinya.

Nichiren mendapat pengampunan pada tanggal 8 Maret, 1274. Pada tanggal 13 Maret beliau meninggalkan pulau Sado, dimana beliau telah tinggal selama dua setengah tahun, dan kembali ke Kamakura pada tanggal 26 Maret.

Selama masa pembuangan beliau, terjadi penurunan jumlah penganut ajaran Nichiren di Kamakura dalam jumlah yg cukup besar. Nichirô tinggal di tempat tinggal Daigaku Saburô Yoshimoto setelah dilepaskan dari penjara. Nichiro pergi mengunjungi Nichiren di pulau Sado lebih dari satu kali. Nisshô tidak ikut ditahan dalam insiden Tatsunokuchi diperkirakan karena hubungan kekeluargaannya dengan keluarga Konoye. Nissho diijinkan untuk tinggal di bekas rumah seorang samurai di daerah Hamado di Kamakura. Tradisi mengatakan bahwa samurai ini adalah Kudô Suketsune, yg mempunyai hubungan dengan ibu Nisshô. Kudô Suketsune adalah salah satu bawahan penting dari Minamoto-no-Yoritomo. Tempat tinggal Nisshô cukup besar untuk mengadakan pertemuan ceramah. Di tempat pembuangannya, Nichiren merasa gembira ketika mendengar kabar ini dan mendorong Nisshô untuk mengadakan upacara Daishikô setiap hari ke-24 setiap bulannya. Upacara Daishikô adalah upacara bulanan untuk Tendai Daishi, yg telah meninggal pada tanggal 24 November 597. Nisshô menjalankan upacara ini secara teratur dan memberikan ceramah-ceramah pembabaran Saddharma Pundarika Sutra dan ajaran Makashikan dari sekte Tendai. Nichirô juga mengadakan upacara bulanan ini di Hikigayatsu.

Ketika mendengar kabar kembalinya Nichiren ke Kamakura menteri peperangan Nagasaki Yoritsuna memanggil beliau dan mengajukan pertanyaan tentang kapan pasukan Monggol akan mulai menyerang Jepang. Nichiren menjawab bahwa mereka akan datang tahun itu juga.

Pengasingan Sukarela ke Minobu

Setelah kembali dari pengasingan di pulau Sado, Nichiren tinggal hanya selama lima minggu di Kamakura, dimana dia telah menghabiskan sebagian besar dari masa mudanya. Beliau pergi meninggalkan Kamakura dengan hanya sedikit pengikut pada tanggal 12 Mei 1274, dan masuk ke pedalaman daerah pegunungan Minobu di daerah Hakii di propinsi Kai (Yamanashi-ken) pada tanggal 17 Mei. Hakii Sanenaga, penguasa daerah Hakii, adalah salah seorang pengikut Nichiren. Sejak saat itu Nichiren tidak pernah meninggalkan Minobu selama hampir sembilan tahun sampai pada tanggal 8 September 1282.

Selama waktu ini banyak kejadian penting yg terjadi di Jepang. Pada bulan Oktober 1274 pasukan Mongol mendarat di daerah Chikuzen di Kyushu. Namun 200 kapal perang mereka ditenggelamkan badai, dan hanya sedikit yg bisa menyelamatkan diri ke Korea. Berita ini sekali lagi membuat semangat para penganut ajaran Nichiren dan orang-orang yg menyebutkan Daimoku semakin bertambah banyak.

Nagasaki Yoritsuna tidak suka melihat berkembangnya kembali ajaran Nichiren, dan dia mencari kesempatan untuk menekan mereka. Pada waktu itu Nikkô sedang giat menyebarluaskan Daimoku di propinsi Suruga. Banyak dari bhikku-bhikku sekte Tendai dan para petani yang menjadi pengikutnya. Pada tahun 1279, Gyôchi, bhikku kepala dari Kuil Ryûasenji, sebuah kuil sekte Tendai di Atsuwara di propinsi Suruga, menangkap dua puluh orang petani penyebut Daimoku dan mengirim mereka ke Kamakura atas tuduhan palsu mencuri hasil panen. Nagasaki Yoritsuna mengadili mereka didepan umum. Para petani ini sama sekali tidak ditanyai tentang tuduhan mencuri. Mereka diminta untuk hanya menyebut mantera Nembutsu. Jinshirô dan dua orang petani lainnya lansung dihukum pancung setelah mereka menolak untuk menyebut mantera Nembutsu.

Pada bulan Juni tahun 1281 pasukan Mongol kembali menyerang Jepang. Mereka mendarat di pulau Shiga dan di propinsi Nagato (Yamaguchi-ken), tapi kapal-kapal mereka kembali dihancurkan oleh badai.

Pada tahun yg sama, sebuah kuil dibangun di Minobu, yg diberi nama Kuonji. Pada tanggal 24 November 1281, upacara perayaan selesainya pembangunan kuil diadakan.

Nichiren jatuh sakit pada tahun 1278. Beliau ingin menyembuhkan kesehatannya dengan mandi di sumber mata air panas di daerah Kakurai di propinsi Hitachi (lbaraki-ken). Beliau meninggalkan Minobu pada tanggal 8 September. Beliau tidak melewati kota Kamakura, dari mana beliau memulai perjalanan ke Minobu delapan tahun yg lalu. Nichiren tiba di tempat tinggal Ikegami Munenaka di daerah Ikegami di propinsi Musashi (Tokyo) pada tanggal 18 September. Pada tanggal 8 Oktober, beliau memilih dari antara murid2nya, Rokurôsô atau Enam Murid Senior: Nisshô Nichirô Nikkô Nikô, Nitchô and Nichiji, Nichiren meninggal di Ikegami pada tanggal 13 October 1282, pada usia enam puluh tahun.