PENJELASAN DARI ODAIMOKU
”NAMU MYOHO RENGE KYO”

Oleh : Rev.Shoryo Tarabini

Adapun objek pemujaan yang dibabarkan oleh Nichiren Daishonin adalah bentuk pemujaan terhadap Judul dari Sutra atau Odaimoku “ Namu Myoho Renge Kyo, dimana dengan sepenuh hati memuja pada Saddharma Pundarika Sutra sebagai kebenaran yang sesungguhnya.

Beliau sangat mengerti tentang ajaran Saddharma Pundarika Sutra tersebut, sebab itu Beliau melihat bahwa dibutuhkan untuk menyederhanakan pelaksanaan untuk menarik perhatian kita kepada Buddha dan kebenaran dari ajaran Beliau. Sebagai jawabannya Beliau menegaskan untuk memanjatkan Odaimoku.  Hal ini menurut Nichiren Daishonin, Odaimoku tidak hanya mewakili Kebenaran dari Buddha, tetapi lebih dari itu, Odaimoku merupakan Perwujudan dari Kebenaran Buddha itu sendiri. Dan ketika pengucapan Odaimoku itu dilakukan dengan kepercayaan yang sungguh-sungguh maka ini mengandung isi dari keseluruhan Saddharma Pundarika Sutra dan Penerimaan sepenuhnya terhadap Buddha.

NAMU

NAMU adalah berasal dari bahasa sansekerta yang berarti NAMAS. Tidak hal yang mudah untuk menerjemahkan aksara ini kedalam sebuah kalimat, ketika diterjemahkan pertama kali ke dalam bahasa China. Sebagai contoh, banyak perkataan sansekerta yang ditemukan dalam sutra, kebanyakan penerjemah memilih untuk menerjemahkan berdasarkan perlafaran ( suara pengucapan ) dari kata aslinya. Dalam bahasa Cina kuno tidak terdapat satu aksara pun untuk menuliskan masing-masing dari huruf tersebut dalam usaha menduplikasikan pelafarannya. Oleh karena itu untuk huruf ini tetap mengacu pada perkiraan cara pengucapannya dalam bahasa aslinya. Kata Namas selalu ditulis berbeda dengan huruf yang dihasilkan dari cara pelafaran atau beberapa kata yang hampir memiliki persamaan seperti Nama dan Namo.

NAMU ATAU NAMAS, mempunyai kesamaan dalam pengartiannya. Sebagai contoh, Namu berarti Menyerahkan dalam bahasa Jepang disebut Kimyo. Bagaimanapun Namu selalu diartikan sebagai “ Mencurahkan Hidup, Penghargaan, Salam Penghormatan, Pemujaan, yang keluar dari ketulusan hati kepercayaan dan menerima perlindungan.” Ketika sedang tinggal di Gunung Minobu (1274 – 1282), dalam masa hidupNya, Nichiren Daishonin menulis dalam surat Beliau, “ Hakumai Ippyo Gosho (Sumbangan Satu Karung Beras atau yang dikenal dengan  Ji-Ri Kuyo Gosho), “Kata Namu adalah istilah dari bahasa india dan diartikan sebagai mencurahkan hidup kita. Di Cina dan Jepang, dapat diartikan sebagai Kimyo dan ini diartikan sebagai mencurahkan sepenuhnya hidup kita kepada Buddha.”

Nikko Shonin, salah satu dari Enam Bhikku Senior ( Pengikut Utama Nichiren Daishonin), mencatat pembabaran Nichiren Daishonin dalam Ongi Kuden ( Catatan Ajaran Lisan ) disini dijelaskan, “…Terdapat dua hal dimana kita mencurahkan hidup kita: Kepada manusia, yang mana adalah Buddha Sakyamuni dan kepada hukum yang mana adalah Saddharma Pundarika Sutra… dalam istilah Kimyo, aksara Ki (cina) berarti “Kembali atau Mencurahkan” ini menunjukkan pada aspek fisik dari hidup yang digambarkan dalam huruf Myo ( “Hidup” ditulis berbeda aksara dengan Myo dari Myoho) adalah aspek spritual. Oleh karena itu, kata Namu mengandung suatu makna yang lengkap yaitu mengabdikan secara sungguh-sungguh seluruh hidup kita baik secara fisik maupun kejiwaan. Dengan kata lain, kita percaya sepenuhnya kepada Sang Buddha dan ajaranNya, terutama Saddharma Pundarika Sutra, dimana kita mencurahkan sepenuh jiwa kita dan dengan setiap cara yang memungkinkan.

Dalam pengertian mencurahkan hidup kita dan menerima perlindungan, Namu berarti kita mendapatkan perlindungan dari Buddha, dimana ini mencakup semua aspek dari Maitri Karuna Buddha yang tak terbatas, Kebijaksanaan dan Kesadaran AgungNya. Bagaimanapun, ini menunjukkan kepada kita bahwa apa yang harus kita lakukan untuk itu, kita mesti menjalankan kehidupan sesuai dengan ajaran Buddha dan semangatNya. Nichiren Daishonin dalam penjelasannya di Gosho “Sumbangan Sekarung Beras,”Apakah seseorang memiliki kekayaan atau tidak, kehidupan adalah sebuah pusaka yang tak ternilai. Inilah sebabnya kenapa para orang bijaksana dan bodhisattva pada masa lampau menyerahkan hidupnya kepada Buddha dan akhirnya mereka mencapai Kebuddhaan (Penerangan Agung).” Beliau melanjutkan, “semua mahluk hidup dapat mencapai Kebuddhaan jika mereka mempunyai satu pusaka, yakni sungguh-sungguh dalam hati kepercayaan. Lebih dari itu semua, hati kepercayaan yang sungguh-sungguh adalah berusaha untuk mengerti / memahami dan melaksanakan semangat itu dalam kehidupan tidak hanya sekedar kata-kata dalam sutra.”

Dalam bagian Jigage (Sajak) dari Bab.II (Juryo) Saddharma Pundarika Sutra, terdapat satu bagian kata berikut : “Isshin Yoku Ken Butsu, Fuji Shaku Shin’myo” ini berarti “Dengan sepenuh jiwa raga ingin bertemu dengan Buddha dalam kehidupan kali ini”. Secara jelas mengambarkan kata dari Namu, bahwa pendirian kita, pengertian, perlindungan dan pencurahan semuanya dimulai dari diri sendiri yang didasarkan pada ketulusan hati dari kepercayaan dan pelaksanaan.

Selengkapnya silahkan klik link berikut ini untuk download: PenjelasanOdaimoku(Rev.Tarabini).pdf